25

Seorang penulis asal Filipina pernah mengutip,

“You know, missing someone can sometimes be the best thing for a writer..”

Mungkin kutipan itu ada benernya juga, karena saat ini, di umur saya yang memasuki quarter age crisis, gak ada salahnya rindu sama seseorang, mencoba buka laptop dan lebih produktif; merangkai kata.

25 tahun? Hahahaha lucu. Angka yang terbilang banyak itu, terpaksa terjebak di badan cewek mungil yang gak pernah bisa naikin berat badan ini.

Bertambah satu tahun lagi usiaku kini. Kalau dipikir-pikir, selama 25 tahun, kisah hidup seorang Dhia Priyanka bisa dijadiin buku lho, karena alur hidup yang lumayan lawak bikin orang geleng-geleng.

Entah karena faktor golongan darah AB yang kata orang-orang punya karakter 4 dimensi (atau memang sudah takdirnya), ngebuat hidup saya ini penuh warna dan pastinya drama. Mulai dari kenalan sama cowok di Friendster lalu ternyata cowok itu adalah perempuan, berantem sama sahabat sendiri untuk ngerebutin sang penipu ulung itu, rambut pernah bondol dan sering disangka butchi, rela kerja setelah lulus SMA demi nabung buat nonton konser Super Junior di Malaysia (I did it!), sampe dua kali nembak cowok dan dua-duanya ditolak hahahaha hidupku malang, hidupuku sayang.

Hari ini adalah hari pertama seorang Dhia Priyanka menjadi wanita berusia 25 tahun. Hmm.. Rasanya akan sering denger pertanyaan ini dari keluarga,

“Pacarnya mana?”

“Kapan nikah?”

“Tata sama Endang kapan nih nimang cucu?”

Hadu.. ngetiknya aja udah bikin merinding. Untuk kamu-kamu yang juga sedang dihadapi dengan pertanyaan-pertanyaan ini, terus langsung baper, coba ya baca ini baik-baik. Saya ngutip ini dari bukunya Falafu;

“Menikahlah, saat Tuhan mengatakan, inilah waktunya, dia adalah seseorang yang paling tepat untuk menjadi pasanganmu. Because God’s time is perfect. Not too short. Not too long. Never too early not too late. It’s just perfect.”

Masalah percintaan di umur 25 tahun emang bisa dibilang serius. Kalau cewek kebanyakan sih, saat dia berhubungan sama seseorang, maunya ya cowok itu yang terakhir. Capek tau, kalau harus nyari dan mulai dari awal lagi.

Meskipun hasilnya gak pernah sesuai dengan harapan, tapi kita harus percaya, Allah pasti kasih yang terbaik, meskipun kadang diri kita gak jarang cuma ingin yang sepertinya terlihat baik padahal nyatanya gak baik.

Saya merasa sangat bersyukur atas semua yang Allah kasih. Punya orangtua yang selalu rela ngelakuin apa aja untuk anak-anaknya, punya sahabat yang selalu setia nemenin dan nerima diri saya yang agak aneh ini, pekerjaan yang saat ini saya jalani sekarang, dan masih banyak hal lain yang bahkan gak bisa disebutin satu-satu.

Semua hal positif yang mengelilingi saya selama 25 tahun akan saya ingat. Saya jaga. Saya sayang. Tapi pastinya gak semua hal positif yang selalu ada.  Ngeliat orang yang diharapkan tetep tinggal lalu pada akhirnya memilih untuk pergi. Ngerasain yang namanya dikhianati dan gak dianggap, semua hal yang terjadi dalam hidup adalah proses untuk menjadi lebih dewasa. Lebih bisa menghargai diri sendiri. Dan yang terpenting untuk bisa memaafkan diri sendiri atas kesalahan-kesalahan yang pernah dibuat di masa lalu. Karena dengan memaafkan diri sendiri, itu tandanya berarti kita udah bisa membuka hati untuk hal-hal dan orang baru. Karena ada kalanya patah hati bisa jadi berkah yang gak mau ditukar dengan apapun juga, sebab bisa mendewasakan.

Ditinggalkan atau memutuskan untuk pergi saya rasa adalah dua hal yang sama. Ditinggal dan memutuskan untuk pergi merupakan sebuah sikap. Sikap untuk menjauh dari hal yang menurut kita gak baik. Sikap untuk mengambil keputusan yang terbaik. Tapi, pergi bukan berarti gak mau bertahan. Terkadang memutuskan untuk pergi sama halnya dengan memberi kesempatan diri sendiri untuk bisa lebih bahagia. Begitulah kutipan Falafu.

Karena pada akhirnya setiap manusia hanya punya dirinya sendiri. Cuma diri kita yang bisa menolong. Dari semua hal yang terjadi dalam hidup, itu adalah sebuah kesempatan baik untuk dilewati. Ambil sisi positifnya dan mencoba belajar untuk sembuh dari hal yang gak baik.

Kalau ditanya, “andai dilahirin lagi, kamu mau jadi siapa?” Saya akan jawab jadi Dhia Priyanka. Jadi diri sendiri. Karena setiap hal yang terjadi selama dua puluh lima tahun adalah waktu yang ngebentuk saya yang sekarang.

Intinya, jangan berhenti bersyukur atas apa yang selama ini udah terjadi. Mungkin memang hal yang terjadi gak sesuai sama harapan, tapi percayalah, Allah tau mana yang terbaik untuk saya. Untuk diri kamu. Untuk diri kita.

Sekian curhatan seorang gadis yang hari ini, 23 Mei, resmi berusia 25 tahun. Let’s enjoy the quarter time!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: