Dimensi Lain

Pernah enggak sih, ketika suatu pagi di busway, di jalan sudirman menuju kantor, kalian sadar akan satu hal yang sangat random, misalnya, “eh, baru ngeh, deh. Indonesia punya dua Ari yang namanya saling berkaitan satu sama lain ternyata, Ari Tulang dan Ari Daging.”

Pernah enggak sih, di sepanjang jalan menuju Stasiun Sudirman kalian dengerin lagu sambil liatin gedung tinggi di sisi jalan dan punya pemikiran, “di dalem gedung itu masih ada orang yang belum pulang kerja. Mungkin mereka lembur atau betah di kantor cuma demi haha hihi sama temen-temen kantornya. Sama kaya apa yang sering gue lakuin.”

Pernah enggak sih, waktu di busway atau kereta, kalian enggak sengaja ngeliat chat orang depan atau samping kalian? Terus kalian kepo sama siapa mereka chatting atau liat wallpaper handphonenya, dan mulai punya prediksi macem-macem sama orang itu, kaya “ih foto wallpapernya lucu. Pasti anaknya..”
atau “oh lagi chattingan sama bapaknya. Minta dijemput (nama kontak bapaknya di hape ‘papah’). Ternyata enggak cuma gue doang yang nulis nama papah (papa dengan huruf H) di kontak hape, dia juga.”

Pernah enggak sih, kalau kalian lagi di jalan, dan ngeliat orang lagi beresin dagangannya karena udah larut, kalian berpikir, “hari ini mereka dapet uang berapa ya?”

Pernah enggak sih, duduk di salah satu bangku Mc. Donald depan Senayan City, malem-malem, sendirian dan nikmatin hal sekecil apapun yang tertangkap mata? (Ini bukan masalah kesendirian atau rasa sepi seseorang, tapi lebih memikirkan untuk enggak membawa kesedihan ke dalam rumah dan membuat orangtua kecewa.)

Semua pemikiran spontan yang selalu jadi alasan favorit, kenapa gue lebih suka perjalanan jauh, lebih suka naik kereta atau busway ketimbang naik ojek, lebih suka jalan sendirian, ngobrol sama otak dan diri sendiri, membuat suatu drama singkat tentang kehidupan gue di 10 tahun ke depan.

Apalagi kalau tinggal di Jakarta. Terlalu sayang ngelewatin penduduk Jakarta yang notabene terbilang unik. Terlalu sayang kalau kita gak bisa ngebayangin hidup di kota yang sepertinya akan maju di 10 tahun ke depan. Perhaps?

Disebuah interview kerja, gue pernah dikasih pertanyaan: “Lo pernah gak sih ngebayangin hidup lo di 10 tahun ke depan?”
I answered, “Saya membayangkan diri saya 10 tahun ke depan ada di sebuah coffee shop, berkutat dengan laptop demi mengejar deadline novel saya yang akan segera rilis. Saya di 10 tahun kemudian, akan bisa bekerja dimanapun dan kapanpun saya mau. Menulis.”

Bahkan gak cuma satu bayangan. Terkadang gue juga suka ngebayangin di 10 tahun ke depan, gue akan memiliki keluarga kecil dengan sepasang anak laki-laki & perempuan, dan suami yang sayang keluarga. Insya Allah. Pernah, gue sampe iseng buat list calon-calon nama buat anak gue nantinya.

Karena menurut gue, hal yang paling membuat kita mudah lupa akan masalah adalah membuat atau membayangkan diri kita ada di kehidupan lain, di dimensi lain dengan kita sendiri yang menjadi penentu akan berakhir seperti apa.
Karena menurut gue, semua gambaran dan impian yang kita bayangin bisa menjadi acuan untuk diri kita supaya lebih baik lagi.
Karena menurut gue, berkutat dengan otak sendiri adalah hal yang paling seru!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: